Musim Semi di Eropa

Setiap melihat foto-foto perjalanan hasil Eurotrip Mei lalu, saya selalu terpikir satu hal, jika kita punya keinginan kuat, selalu camkan di kepala dan yakinkan di hati bahwa itu akan terwujud.

Saya hampir tidak percaya tahun ini bisa menjejakkan kaki di benua Eropa. Selain dengan biaya sendiri hasil jerih payah bekerja, juga dengan penuh perjuangan mendapatkan visa dan jatah cuti yang tersisa. Tahun lalu saya berpikir, “Ah, mumpung Petty lagi di Manchester kayaknya seru kalau bisa ke UK sebelum dia lulus” Dan itu saya tekankan di benak saya berulangkali. Ohya, Petty ini sahabat saya sejak kuliah. Tahun 2013, dia memutuskan untuk cuti bekerja dan melanjutkan pendidikan S2 di Manchester. Awal Januari saya mendapat lampu hijau dari Petty untuk berkunjung ke Manchester, namun rencana yang semula hanya berkunjung ke UK akhirnya berubah ketika Petty bilang bahwa “Gimana kalau Eurotrip sekalian? Aku juga sekalian ada temen yang mau ke Europe bulan Mei..” Dan saya cuma butuh 5 detik untuk bilang iya. Anaknya mudah banget terhasut kalau soal jalan-jalan, hahaa..

Tim pelancong yang tadinya digaungi oleh saya, Petty, dan Jono (sahabat Petty), akhirnya lengkap dengan Chania, sahabat baik saya di kantor. Kebetulan Chania memang sedang mencari partner ke Europe, dan ketika saya ajak, dia pun langsung menyambut dengan semangat. Di Eropa kami mengunjungi 6 kota : Roma (Italia), Paris (Perancis), London, Manchester, dan Liverpool (United Kingdom). Sedikit sekali ya untuk ukuran 16 hari disana? Tapi memang sudah direncanakan dari awal. Berbeda dengan tour dan travel yang setiap harinya dipadatkan dengan berbagai agenda, kami memang tidak ingin menghabiskan waktu terburu-buru. Tipikal yang senang menghabiskan waktu untuk sekedar ngopi-ngopi santai di cafe sambil ngobrol dan menjelajahi daerah yang kami datangi sampai puas.

TICKET, CUTI, DAN VISA

Saya PP menggunakan Qatar Airways, dan karena rutenya multicity (mendarat di Roma, Italy dan pulang dari Manchester, UK) jadi ongkos pesawatnya lumayan mahal Rp 13,9 juta (walaupun sebenarnya beberapa teman bilang kalau itu harga yang cukup ekonomis dengan rute multicity). Sebelum membeli ticket saya pastikan dulu ke atasan bahwa saya diizinkan mengambil cuti yang lama (2 minggu), karena sekali membeli tidak ada jalan untuk kembali. Saya pantang menyerah, harus berangkat pokoknya ;))

Momen perjuangan justru datang ketika harus mengurus visa, karena mengharuskan saya bolak-balik Balikpapan-Jakarta untuk datang ke kantor perwakilan pengurusan visa Schengen dan UK. Mengurus visa Schengen dan UK tidak dapat diwakili karena ada tahapan dimana kita diambil data biometrik, jadi sebaiknya diurus sendiri karena menggunakan travel/perantara justru menambah pengeluaran, sayang kan padahal budget-nya bisa digunakan untuk yang lain. Daftar persyaratan pun lengkap tersedia di situs lembaga pengurusan visa VFS Global jadi memudahkan untuk orang awam yang baru pertama kali mengurus visa seperti saya.

Visa yang bikin saya degdegan adalah visa UK, karena setelah diambil semua dokumen dan tes biometrik saya harus menunggu semua dokumen diverifikasi oleh lembaga pengurusan visa UK di Thailand. Keseluruhan proses memakan waktu paling cepat 3 minggu. Alhamdulillah visa saya jadi tepat 2 minggu sebelum keberangkatan. Untuk visa Schengen bahkan sudah saya terima sebelum memasukkan aplikasi visa UK. Ohya, saya apply visa Schengen melalui negara Italia dan pengurusannya hanya 1 minggu. Sedikit tips dari petugas perwakilan VFS Global Indonesia, sebaiknya masukkan aplikasi ke negara yang paling lama kita tinggali disana, karena misalkan saya pertama kali mendarat di Roma, tapi lebih lama di Paris, akan lebih besar kesempatan persetujuan visa apabila apply visa melalui kedutaan Perancis. Tidak selalu harus membuat visa di negara yang pertama kali kita datangi.

ANGIN MUSIM SEMI

Saat saya disana bersamaan dengan penghujung musim semi di kebanyakan negara Eropa. Bulan Mei, dimana banyak bunga bermekaran dan suhu sudah mulai bersahabat (katanya). Memang tidak terlalu dingin, dan ada hari-hari dimana matahari sinarnya sangat terik, tapi saya tidak pernah keluar hanya dengan berbalut kaos atau 1 lapis sweater, karena anginnya masih berhembus kencang. Bahkan ada saat-saat dimana rasanya seakan-akan menusuk sampai ke tulang. Jadi pastikan selalu membawa coat atau jacket yang tahan angin/windbreaker, terutama yang berbahan luar parasut karena seringkali gerimis dan sesekali hujan lebat. Saya juga membawa payung kecil yang bisa dimasukkan kedalam tas untuk lebih berjaga-jaga.

JAJANAN FAVORIT

Tentu saja untuk saya pemenangnya GELATO! Dalam 1 hari saya bisa mampir 3x ke tempat penjaja Gelato. Teksturnya lembut dengan variasi pilihan rasa, ukurannya besar, tidak membuat batuk, dan harganya lebih bersahabat dari Baskin Robbins atau Haagen Dazs. Di Indonesia juga ada Gelato, tapi saya merasakan ada sedikit perbedaan di tekstur dan banyak perbedaan di harga, hahaa.. 

Vatican Museum

Beautiful stairs at Vatican Museum

with Petty <3

with Petty <3

all team at Versailles Palace

all team at Versailles Palace

Pantheon, Rome Italy

Pantheon, Rome Italy

Untuk postingan tentang perjalanan di masing-masing negara menyusul di lain kesempatan, Ciao Bella! :)

Advertisements

BANGKOK SONGKRAN FESTIVAL: “Sawasdee Pee Mai!”

Rencana bertolak ke Bangkok untuk Songkran Festival sebenarnya sudah ada dari setahun yang lalu. Agak menggebu karena merasa penat menunggu cuti yang gak kunjung datang sementara ajakan pergi dari teman-teman untuk liburan ke berbagai tempat datang bertubi-tubi. Domisili di Balikpapan semakin menyulitkan ketika ingin liburan dengan low cost, karena itu begitu ada promo ticket PP JKT-BPP saya gak berpikir dua kali untuk beli. Walaupun belum tentu jadi ke Songkran, yah paling tidak saya ada tujuan lain: pulang kampung ke rumah :’)

Tapi takdir berkata lain, sebulan sebelum Songkran -yang setiap tahunnya jatuh di tanggal 13-15 April- akhirnya saya membeli tiket ke Bangkok, bersama Farhan, Willy, dan disusul oleh Anida.

11

with Farhan at Siam Square (photo by Anida)

Berbeda dengan Farhan yang sudah beberapa kali melakukan solo trip, saya amatir ketika berkaitan dengan traveling dan berkenalan dengan warganegara asing, sehingga saat tahu bahwa Willy dan Anida -yang sejatinya memang traveler yang sudah melanglang buana ke berbagai Negara- akan menemani saya dan Farhan kali ini, rasanya sangat menyenangkan. The more the merrier!

6

The most crazy war-zone, Silom road! (photo by Willy)

Setibanya di Bangkok, kami tidak membuang waktu percuma. Tidak sampai sejam beristirahat di hostel, kami langsung keluar untuk mencari keriaan Songkran. Willy paling sigap, dari awal sudah membeli water-gun di hostel. Saya menyusul setelahnya karena tidak tahan ditembaki air oleh penduduk lokal. Naluri kompetitifnya tersulut :’))))

Ada beberapa pusat keriaan Songkran Festival yang sempat kami kunjungi, Silom Road, Khao San Road, Siam Square, dan Royal City Avenue. Dari semuanya, Silom Road adalah war-zone yang paling meriah, berpusat di Silom Complex dibawah BTS Saladaeng, segala macam atraksi ada di sepanjang Silom Road. Mulai dari pemadam kebakaran yang siaga menyemprot air ke segala penjuru, penjual berbagai jenis pistol air, aneka jajanan, wet ladies dancing show, sampai dengan bubble play area. Pengunjungnya pun dari berbagai usia, walaupun didominasi oleh remaja dan dewasa muda.

Di semua pusat keriaan Songkran, saya sama sekali gak keberatan disemprot air berkali-kali, bahkan air dingin sekalipun. Niatan kami memang bersenang-senang selama pesta air 3 hari –dan ternyata 3 malam juga, gilak!- tapi selain air juga ada cairan kapur putih yang dengan bebasnya bisa dioleskan oleh siapa saja, ke bagian mana saja, dan tentu saja sasaran utamanya di wajah! Banyak sekali pemuda-pemudi hilir mudik dengan mangkuk kecil berisi cairan putih tersebut sehingga tidak mungkin untuk melarikan diri. Saya berulang kali kena telak, sampai gak terhitung berapa kali mata kelilipan. Tapi karena esensi pengolesan cairan putih tersebut adalah sebagai berkat Tahun Baru, saya gak bisa marah. Apalagi semakin dihindari semakin bikin orang geregetan. Dari yang awalnya geram, pasrah, sampai ujung-ujungnya cengengesan saja. Meleng dikit langsung dicolek orang, Jon!

9

ki-ka: Alderina-Mathijs-Anida-(me)-Farhan-Carol (photo by Willy)

Beruntung di keriaan Songkran Festival ini kami berempat dapat tambahan extra team 3 orang teman yang kami jumpai di hostel, Carol, Mathijs, dan Chris. Dan agenda bertemu dengan teman kami Alderina yang saat ini berdomisili di Bangkok juga terpenuhi. Mission accomplished, everybody happy :’)

Songkran Festival di Thailand merupakan semacam perayaan Hari Tahun Baru yang jatuh pada pertengahan April, waktu terpanas di sepanjang tahun di Thailand karena bertepatan dengan akhir musim kemarau. Dan karena pemerintah Thailand menjadikan Songkran Festival sebagai hari libur nasional, ajang pesta air gila-gilaan ini dirayakan massal di berbagai daerah di Thailand. Alderina bilang perayaan Songkran sebenarnya paling terkenal di Thailand Utara, kota Chiang Mai. Dengan durasi waktu perayaan lebih lama dan ada parade gambar budha dimana penduduk setempat bisa melempar air ke gambar tersebut sebagai berkat. Menariknya, berbeda dengan Chiang Mai dimana penduduk lokal merayakannya dengan meriah, perayaan Songkran Festival di Bangkok justru didominasi oleh para remaja Thailand dan wisatawan asing dari berbagai Negara, karena kebanyakan penduduk lokalnya, terutama generasi yang lebih tua, lebih memilih untuk pulang merayakan Songkran di kampung halaman masing-masing menghindari kerumunan massal dan kehebohan pesta air.

3

firefighter at Silom road (photo by Anida)

Karena dua hari sudah kami habiskan untuk berbasah-basahan sepanjang hari, di hari ketiga kami putuskan untuk mengunjungi Komplek Biara Budha Wat Arun dan Wat Pho. Di kedua tempat tersebut Songkran diperingati secara tradisional dengan berdoa, memberikan makanan kepada para biksu, dan melakukan ritual pemandian patung Budha sebagai simbol pembersihan dan pembaharuan. Hal ini diyakini akan membawa keberuntungan dan kemakmuran untuk Tahun Baru.

7

‘Bathing Budha’ Ritual at Wat Pho

1

View from Wat Arun Temple

Yang menarik perhatian saya saat berkunjung ke Wat Pho adalah di salah satu area di dalam komplek Biara tersebut terdapat satu lokasi dimana banyak terdapat gundukan pasir menyerupai stupa kecil yang dihiasi bendera warna-warni dan bunga. Gundukan pasir menyerupai mini stupa tersebut merupakan simbol pembersihan menyeluruh, pengganti untuk segala kotoran yang terbawa pada kaki seseorang, dalam hal ini dimaksudkan segala perbuatan buruk yang telah dilakukan sepanjang tahun sebelumnya. Setelah diletakkan di area yang tersedia, setiap orang berdoa di depan ‘mini stupa’ mereka masing-masing dan membuat resolusi tahun baru untuk melakukan hal-hal yang baik ke depannya.

8

Warna-warni mini stupa dari pasir, saat membuat resolusi tahun baru :)

Baik ajang pesta air maupun perayaan secara tradisional, Songkran Festival menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik domestik maupun asing untuk berkunjung ke Thailand.

Ada beberapa hal yang membantu saya selama Songkran trip :

  • Tetap berada dekat dengan rombongan teman-teman selama berada di ajang pesta air, situasi kerumunan massa bisa menjadi lepas kendali dan hal yang paling gak kita inginkan adalah terpisah dari rombongan dan berakhir saling mencari sepanjang hari.
  • Menginap di hostel yang lokasinya tidak jauh dari pusat keriaan Songkran. Kebetulan hostel tempat kami menginap, Saphaipae, berada di Surasakh road, sekitar 100 meter dari BTS Surasakh dan 1 km dari Silom Road, sehingga akses untuk pergi ke berbagai tempat sangat memadai. Pelayanan, kebersihan kamar, dan makanan di hostel pun sangat baik. Favorit saya? Thai Ice Tea-nya, tidak terlalu manis, pas di lidah :’)
  • Di situasi war-zone, saya yang gampang tersulut akhirnya membeli pistol air 2x :’)) yang pertama lebih sering butuh isi ulang air dan lumayan berat untuk tubuh saya yang mungil. Jadi saya putuskan untuk membeli pistol air yang lebih fleksibel dan membantu. Kalau mau bersenang-senang, jangan tanggung-tanggung :’D
  • Sebelum berangkat, teman saya bilang nanti jangan naik Tuk Tuk, harganya mahal karena drivernya tahu kebanyakan yang tertarik untuk naik adalah wisatawan. Tapi khusus saat Songkran Festival, sangat disarankan untuk naik Tuk Tuk jika ingin mencoba pengalaman war-zone yang seru dan berbeda. Saya serasa seperti gangster yang ada di televisi, di setiap lampu merah selalu siaga dengan pistol air masing-masing jika ada Tuk Tuk atau mobil lain yang berusaha menembak Tuk Tuk kami dengan pistol airnya. Tapi tentu saja kami selalu tak berdaya ketika melewati setiap perempatan atau pinggir jalan dimana ada kerumunan warga yang siap menerjang Tuk Tuk kami dengan ember besar berisi air penuh. Setiap turun dari Tuk Tuk basah kuyupnya selalu keterlaluan, namun seperti anak kecil kami selalu tertawa ceria karena puas sudah berhasil melewati satu pertempuran :’)))
  • Bawa obat-obatan pribadi dan makan yang cukup, karena war-zone Songkran sangat menghabiskan tenaga. Selama disana bisa dikatakan bahwa energi penduduk lokal seperti gak ada habisnya, mereka totalitas dalam merayakan Songkran. Pesta air tidak hanya berlangsung dari siang ke sore saja. Di beberapa tempat, salah satunya Royal City Avenue, perayaan Songkran dilakukan sampai dini hari menjelang shubuh. So if you wanna join them, you should be in a good condition. Jangan sampai sepulangnya ke rumah malah jadi flu berat dan tepar gak karuan.
  • Last but not least, AWESOME FRIENDS!

Untuk gallery foto lebih lengkap dan cerita Songkran lainnya bisa berkunjung ke Farhan atau Anida :’)

Happy Songkran Day, people! Sawasdee Pee Mai! :’)

2

Our First Trip!

Pacar saya pernah bilang, “ingatan kamu menakutkan!” Gara-gara saya bisa ingat hal-hal kecil yang biasanya terlupakan. Tapi kalau traveling bareng sama dia rasanya itu hal yang memang sulit dilupakan, dan saya rasa itu berlaku vice versa untuk kami berdua *pede* :D

Adalah trip pertama kami berdua, saya dan @farhansv, keluar negeri bareng. Tujuannya mampir ke negeri sebelah, Singapura. Seumur-umur pacaran hampir 4 tahun, baru sekali itulah kita trip bareng keluar negeri, keluar kepulauan Jawa yang pertama kali juga malahan. Kasian sama kita? No need to, selalu ada yang pertama kali untuk sesuatu :)  Dan kalau baru jadian beberapa bulan trus kita pergi keluar negeri bareng, rasanya abis pulang kita bisa langsung bubaran karena belum kenal sifat masing-masing.

Di setiap perjalanan biasanya saya browsing di tempat destinasi ada objek apa aja yang bisa diliat dan diskusi sama partner perjalanan. Dan biasanya juga saya lebih galak sama teman kalau dia bilang, “kita ngobrolinnya nanti ya” atau “duh, gw bingung nih mutusin kemana aja tujuannya” tapi berhubung sama pacar (yang entah kenapa tingkat toleran saya luar biasa kalau sama dia) jadi saya santai, ibaratnya pake istilah “go with the flow aja”, hahaa.. (but next time kalau kita trip bareng keluar negeri lagi, perangai galak itu rasanya perlu). Akhirnya diskusi itinerary baru dilakukan seminggu sebelum perjalanan, itu pun memangkas waktu luang yang harusnya @farhansv gunakan buat ngerjain sidejob-nya. Hati saya gak tenang waktu hitungan jam sebelum keberangkatan kami, dollar belum ditukar. Sepele memang masalah tukar uang, tapi yah entah kenapa merasa ribet sendiri kalau harus tukar disana, belum lagi kalau ternyata kursnya jauh lebih mahal dan memangkas budget liburan kami. Untungnya masalah itu terselesaikan di awal perjalanan (kok cuma di awal selesainya? We’ll continue ’bout that later :D)

Sampai di Soetta semuanya lancar terkendali, bahkan kita sempat dapat wejangan dan doa dari supir taksi yang mengantar, hahaa.. Tapi kepercayaan diri saya seperti meluntur waktu sampai di Changi, saat harus beli simcard lokal. Mendadak logat Singlish yang diucapkan frontliners-nya bikin saya grogi, sampai akhirnya harus diulang beberapa kali baru saya paham, dan sempat terjadi salah pengertian hingga saya akhirnya beli simcard dengan harga yang lebih mahal. Dari situ saya jadi agak takut membuka obrolan dengan orang asing, bahkan dengan sesama penghuni hostel yang kami tempati. Saya jadi lebih banyak tersenyum dan menyibukkan diri sendiri.

Selama trip berlangsung, kami membagi perjalanan 3 hari itu menjadi 3 tema, hari pertama adalah hari berbudaya (pergi ke museum, jalan-jalan di kota dan taman, serta melihat festival pertunjukan seni di Esplanade). Hari kedua, hari bermain! (seharian dihabiskan di Universal Studios Singapore dan ditutup dengan santai malam hari di Clarke Quay), dan hari ketiga kami sepakati sebagai hari belanja (sudah diniatkan di awal kami akan beli titipan dan oleh-oleh di hari ini). Sebenarnya tema-tema ini keputusan saya sepihak yang disetujui oleh @farhansv (karena sayang sepertinya *lalalalaaa*).

Ceritanya kembar gitu jamnya :p

Boleh dibilang kami traveling di saat yang pas, karena di Singapura sedang diadakan Huayi Festival menyambut datangnya Tahun Baru Cina, dan beberapa atraksi atau pertunjukan seni diadakan di Esplanade, tidak begitu jauh dari hostel kami, sekitar 15-25 menit perjalanan. Di National Museum of Singapore juga sedang diadakan open house sehingga kami bisa gratis masuk ke setiap area. Kami pun terbantu dengan lokasi hostel yang strategis (Hongkong st.) dekat dengan tempat makan yang murah, halte bus, MRT station, mall (Center Point), hang out places/tempat nongkrong (clarke quay), dan semuanya itu bisa ditempuh dengan jalan kaki, awesome! Oia, ditambah juga dengan keramahan dan pelayanan yang baik dari hostel tempat kami menginap, River City Inn. A whole great package.

Kisruh diantara kami justru datang dari hal yang sepele (like I told you before, it’s only the beginning). Saya yang gak ahli dalam hal potret-memotret seringkali bikin dongkol pacar yang justru kebalikannya andal dan tahu momen yang pas menangkap gambar. Tentu saja ini membuat stock photo saya jauh lebih banyak dari dia, hehee.. Saya yang di awal sempat grogi, akhirnya jadi ngintil kemana @farhansv pergi, padahal sebenarnya dia gak mempermasalahkan kalau saya mau pergi mencari hal-hal menarik lain. Panik karena ternyata harus ambil duit tambahan dan tukar uang tapi ATM yang sesuai sulit ditemui, sampai jadwal pesawat yang ternyata beda dari info awal membuat rute mencari barang titipan yang sudah direncanakan dari awal jadi berantakan, merubah mood perjalanan hari terakhir jadi suram. Kisruh pun semakin lengkap dengan cuaca yang kurang mendukung. Yes, selama 3 hari disana, hujan sangat akrab menghiasi perjalanan, bahkan disaat kami wara-wiri di Universal Studios Singapore.

Tapi yang menarik adalah entah kenapa saat sudah di pesawat kembali menuju Jakarta dan mengingat tempat apa saja yang berhasil kami datangi dan pengalaman apa yang kami dapatkan, saya justru merasa senang, sempat senyum-senyum sendiri malahan, hahaa.. Dan setelah suasana kembali tenang, kami bicara dan mengungkapkan ganjalan di hati masing-masing, apa yang kurang dan harus diperbaiki untuk trip selanjutnya (semoga @farhansv masih mau jadi partner trip saya :D). Dia bisa jadi sangat demanding, tapi saya lebih suka dia yang jujur mau ini-itu, mau kesini-kesitu, daripada dia yang cenderung ‘nrimo’ dan bilang terserah mau pergi kemana, karena ujung-ujungnya bakal clueless dan jalan di tempat. Masing-masing pasangan punya cara tersendiri untuk problem solving. Mendewasakan diri ga? Yam..tentu saja :)
Anyways, there are some points taken :

  1. Kalau pacar bilang dia sibuk, sangat disarankan buat itinerary sendiri dulu lengkap dengan perkiraan budgetnya, jadi diskusi bisa lebih praktis by email, walaupun saya pribadi lebih suka ngobrol biar lebih jelas. Oia! Jangan lupa sharing semua file yang harus di print, jadi ada cadangan, just incase :)
  2. Biasakan lebih dalam menukar dollar/valuta asing lainnya dan jangan mepet juga nukarnya  *selfnote*
  3. Partner perjalanan adalah tempat berbagi, tempat curhat, orang yang kita percayai, jadi harus lebih jujur dan terbuka. Kalau gak suka tentang suatu hal ya bilang, kalau takut atau grogi juga bilang aja. Gak akan dihukum (apalagi sama pacar sendiri), justru bakal dibantu. Di kasus takut naik rollercoaster contohnya, walaupun jantung kayak mau copot, seengganya saya udah pernah nyoba, bisa cerita ke anak cucu, “nenek dulu walaupun penakut tapi berhasil naik rollercoaster yang mengerikan lho, cu, kamu juga harus berani dong!”. Lagian kalau dipikir-pikir, sayang juga sudah jauh-jauh ke USS tapi gak naik salah satu wahana andalannya. Thanks to @farhansv:)

    Human Battle Galactica! Butuh setengah hari membujuk saya naik wahana itu, hehee..

  4. Kalau @farhansv susah bangun pagi, dia merelakan kepalanya digetok atau badannya dicubit, apapun asal bisa dibangunin! *anotherselfnote*
  5. Double check jadwal pesawat pergi-pulang, jadi risiko rally ngejar pesawat bisa dikurangi bahkan ditiadakan. Ini penting banget, karena sudah 2x saya punya pengalaman harus rally ngejar pesawat. Kali ini lebih luar biasa deg-degannya gara-gara ditambah sama momen lari-lari di Changi dengan celana kedodoran karena lupa pake ikat pinggang :D
  6. Ternyata saya gak petabuta! Walaupun mungkin gak andal, tapi bisa baca peta dan inget rute-rute MRT sangat membantu partner kita, apalagi kalau dia tiba-tiba hilang arah karena panik, hihii..
  7. Hari kesukaan saya itu: hari kedua! Mungkin karena baru pertama kali ke USS jadi ada debar penasaran gitu *duileee* dan banyak photo serta video yang bagus di hari itu. Sayangnya, semua photo di iPhone @farhansv hilang karena gak sengaja ke-restore saat ganti setting. Sampai sekarang kami masih berduka kalau inget-inget hal itu, beneran.
  8. Hmm..saya harap sang pacar gak kapok pergi liburan keluar negeri bareng saya lagi, karena saya engga. I would love to go traveling around the world with him. *langsungliatjadwalliburkantor* :D
  9. Bisa dilihat juga tulisan @farhansv tentang trip kami disini dan foto-fotonya disini

i want all those chocolate and candies, dear God please forgive me! hahaa

Last but not least,
For all couples, I hope you guys enjoy your traveling time together, bye! :)

Gerakan 10 Ribu Langkah KuaLa Lumpur-Singapore (Part 2)

Part 2 – Singapore


“Bangun hayo bangun, semuanya turun dari bus!” Mendadak seruan itu bikin semua penumpang bus double deck yang saya naiki terhentak dari kursinya masing-masing. Dengan wajah setengah sadar dan rambut awut-awutan, perlahan semua penumpang turun sambil membawa paspornya masing-masing. Waktu menunjukkan pukul 4 pagi waktu Singapore. Dengan terkantuk-kantuk kita semua baris antri untuk di cek paspornya di perhentian imigrasi Singapore. Sempet khawatir karena Johan dipanggil ke dalam ruangan untuk pemeriksaan lebih detail, tapi untungnya dia diperbolehkan keluar setelah kroscek beberapa hal mengenai paspornya. Finally sampai juga team rempong ini di Sg setelah makan waktu 5 jam perjalanan dengan bus double deck Starmart. Sebenernya sih perjalanannya ga berasa karena kita tidur, tapi lelah akibat jalan seharian baru terasa besoknya dan waktu juga masih terlalu pagi untuk check in ke hostel tempat kita nginep di Sg. Walhasil, kita stop di McD yang katanya ga jauh dari hostel.

Setelah sejam istirahat di McD, akhirnya kita mutusin untuk pindah ke hostel dan mengiyakan untuk bayar extra charge SGD 5  karena check in lebih awal. Tapi dasar ga rejeki, ternyata pas kita berhasil nemuin hostelnya kita ga bisa masuk karena kamarnya penuh terisi (saya sama Johan muter-muter cari hostelnya, eh ternyata tempatnya bener-bener di belakang McD, cuma pintunya yang emang nyaru sama toko-toko yang ada di sebelahnya -_-‘ ). Akhirnya setelah mencoba peruntungan nyari hostel lain dan nangkring di warung mie seafood (mienya super enak kata Anda), kita bisa nego ke penjaga hostel tempat kita nginep untuk menitipkan tas dan numpang mandi disana.

Mata masih sepet dan muka udah zombiefied tapi tetep pede keliling Sg pagi-pagi buta. Kebetulan hari itu hari minggu jadi MRT-nya ga penuh sama orang berangkat kerja dan anak sekolah. Kita sengaja beli tiket two days pass biar lebih praktis dan hemat. Dan tiket two days pass itu juga bisa diambil refund-nya sebesar SGD10 di hari Senin malamnya :D

my two days pass ticket

Tujuan pertama di Singapore: Bugis. Pertama kali sampai Bugis, belum ada satupun toko yang buka, kita kepagian! Maklum kita sampe sana jam 9 pagi, yang kerja disana juga masih pada beberes :p Untuk ngabisin waktu, kita keliling (by foot) ke area sekitar Bugis Junction, sempat ngelewatin National Library Singapore juga. Kata Johan, selain koleksi buku yang lengkap dan tempat baca yang nyaman, internet di National Library kenceng banget koneksinya, jadi anak sekolah sama mahasiswa doyan banget mampir disini, hehee..

Setelah mondar-mandir ga jelas akhirnya Johan dan Ninda mutusin buat makan dulu, dan Yoshinoya di Bugis Junction jadi pilihan tempat kita makan. Oia, mulai hari Minggu saya resmi jadi satu-satunya orang yang berpuasa, karena Ninda mendadak didatengin tamu bulanan (pantesan pas di KL rewel banget :D). Setelah makan akhirnya toko-toko mulai buka satu persatu. Mulai deh keliling-keliling sesuai interest masing-masing. Johan beli sandal, Anda beli sandal (juga) dan 1 tas Charles & Keith, Ninda beli dompet (juga Charles & Keith), dan terakhir adalah saya yang beli sunglasses. Engga kok, kita ga kalap (mm..belum mungkin lebih tepatnya).

Masih sepi, belum ada toko yang buka..

Pulang dari Bugis, kita ga mampir kemana-mana dulu tapi langsung menuju ke Hostel kita di Syed Alwi Road, daerah Lavender. Begitu sampai hostel (sekitar jam 12.30) langsung pada tepar semuanya, padahal niatnya sih cuma istirahat sebentar dan akan lanjutin perjalanan jam 2 siangnya. Saya sendiri kayaknya ngigo matiin alarm saking capeknya :D dan ujung-ujungnya kita baru berangkat lagi jam 6 sore untuk ngejar buka puasa jam 7.30 di Singapore (sama aja lamanya kayak di KL  -_-)

Next: Orchard. Terakhir saya kesini pas jaman SD, kebayang kan lama banget, hehee..tapi saya ga perlu lagi photo mejeng di depan papan Orchard rd. karena di rumah udah ada, versi yang lebih imut malah :D

Night at OrchardPertama kita mampir di mall terbaru di sana, ION. Disini juga saya akhirnya berbuka puasa. Agak bingung sama menu pada awalnya (karena banyak pork-nya :D ) tapi akhirnya pilihan jatuh ke nasi bebek Hainan. Selesai makan kita keliling-keliling mall, dan disini juga saya mendadak bangkrut karena tergoda beli boots-nya Pull and Bear (T_T)  Sebenarnya kalo dihitung dari harga, saya sama sekali ga rugi karena sepatu itu koleksi terbaru dan bisa didapat dengan harga lebih murah dibandingkan kalo saya beli di Indonesia (kalo dianggap diskon, berarti saya dapet potongan harga sekitar 40%, lumayan banget kan? *pembenaran* :D ) Tapi uang cash yang saya bawa juga jadi berkurang hampir 40% (lah kok sama?) Intinya sejak belanja boots di Orchard, saya memutuskan untuk puasa belanja. Belanja hanya yang dibutuhkan aja. *crossing fingers*

Lanjut dari ION, kita mampir ke Singapore Visitors Centre untuk cari tau informasi tempat yang bagus (dan wajib) untuk dikunjungi. Pilihan agak banyak padahal waktu minimalis. Ada Merlion, Esplanade, Little India, Jurong Bird Park, Singapore Zoo, Sentosa Island, dan Marina Bay. Selepas dari Singapore Visitors Centre, kita ga bisa melancong ke tempat lain karena kebanyakan tempat uda tutup (kita belum tau kalo ternyata Mustafa Centre di Little India buka 24 jam! ). Ada titik cerah pas akhirnya Johan bilang dia mau janjian ketemuan sama temennya di satu café di dekat Orchard. Di café itu kita istirahatin kaki sekaligus nikmatin fasilitas wi-fi gratis, yeay!

Senin, hari kedua di Singapore. Tujuan: banyak! :D

Tujuan pertama hari ini adalah Singapore Zoo. Sempet ada insiden pribadi, yaitu saya lupa Sahur! Mmm..sebenernya ga kelupaan total, cuma bangunnya telat karena kecapean. Jadi hanya sempat ngemil potato chips sama minum air putih *merana*. Ok, balik ke Singapore Zoo. Kita berangkat naik MRT, sempat transit di City Hall kemudian lanjut lagi MRT ke arah utara (Maapin karena saya lupa detail stasiun yang harus dituju dimana aja, tapi kalau ke Singapore jangan lupa ke Singapore Visitors Centre, karena disitu kita bakal dikasi peta, bulletin, dan panduan untuk menuju ke tempat-tempat yang kita mau).

Singapore Zoo

Setelah sampai di stasiun yang dituju, rencananya kita akan melanjutkan dengan naik bus, tapi pas keluar stasiun ternyata sudah ada shuttle car berbayar yang sekaligus menawarkan tiket masuk ke Singapore Zoo. Jadi tanpa pikir panjang (dan karena rebutan juga dengan turis yang lain) kita membeli paket tiket masuk Singapore Zoo + Shuttle car-nya. Paket tiket yang kita beli juga sudah termasuk karcis trem untuk keliling area Singapore Zoo.a kiss for me <3

Buat saya pribadi, kalau mengunjungi negara lain (apalagi yang berbeda musim), kebun binatang adalah tempat yang wajib dikunjungi, karena ada binatang khas yang sulit ditemui di Negara lain.

Area Singapore Zoo akan lebih menarik dan khusyuk jika dikunjungi dengan berjalan kaki karena ada spot-spot kandang hewan yang tidak bisa dimasuki oleh trem. Antara hewan dengan pengunjung pun tidak dibatasi oleh pagar, bahkan di beberapa spot hewan-hewan tersebut dibiarkan lepas di kandangnya, jadi kalau pengunjung (berani) berinteraksi ya silakan saja asal mematuhi peraturannya :D  Oia, area hewan ganas seperti harimau putih pun ga diberi pagar lho, kita hanya dipisahkan oleh sungai lebar yang sengaja dibuat sebagai jarak.

met the real hippo!

@ tiger garden dan tenang, macannya cuma replika doang kok :D

Area yang luas membuat waktu keliling-keliling ga cukup satu jam! Kita baru selesai muterin seluruh area sekitar jam 2 siang tapi itu juga sudah termasuk melipir ke toko souvenir untuk beli kenang-kenangan di sana. Masing-masing beli lampu mungil berbentuk hewan yang bisa menyala warna-warni. I love zoo!

Perjalanan dilanjutkan ke Esplanade. Pertama naik bus dari Singapore Zoo kemudian lanjut lagi dengan MRT. Johan sengaja mengajak kita ke teras atas Esplanade (yang ada tamannya!) untuk photo-photo karena dari situ bisa terlihat berbagai macam objek. Mulai dari Eye of Singapore, Arsitektur Esplanade, sampai dengan Marina bay.

Setelah Esplanade, kita lanjut ke Merlion (patung singa yang wajib di photo bareng :p) dan naik water taxy menuju Clarke quay.

Rencananya mau makan malam di sana, tapi ternyata kita gagal untuk refund two days pass di stasiun MRT Clarke quay. Jadi mau ga mau harus berangkat ke Harbour Front untuk menukar refundnya (dasar emang backpacker nanggung, banyak belanja sampe lupa kalo budget menipis). Demi SGD 10, kita rela menunda makan malam :p

Nightview at Merlion and Water Taxy to Clarke Quay

Setelah menukar refund di Harbour Front, kita akhirnya makan di Vivo City (another mall!). Di foodcourtnya sudah dipisahkan antara makanan yang halal dan yang tidak bagi kaum muslim, jadi ga usah bingung cari-cari lagi.

Kebetulan di Vivo city juga ada sale dan tanpa babibu lagi si Anda belanja (dasar jiwa hedon, hahaa). Saat di Bugis Junction, Anda belanja tas dengan credit card, jadi sisa uang cash nya paling banyak di antara kita. Dan karena itu juga kita bertiga (saya, Ninda, dan Johan) memutuskan secara sepihak kalo Anda yang harus bayar taksi ke Airport Changi hari selasa paginya *applause*.

Back to our trip. Kita masih punya waktu sampai tengah malam untuk berjalan-jalan. Dikarenakan budget terbatas, akhirnya kita meng-cancel Sentosa Island dan memilih ke Mustafa Centre di Little India (yang ternyata cuma beda 1 blok dan masih sejalan dengan hostel tempat kita nginep). Di Mustafa Centre, Ninda yang ngakunya bokek mendadak beli tiga parfum dan beberapa body spray (4 buah sih kalo ga salah :D). Dan yang lain juga beli barang-barang murah disana.

Setelah mendarat kembali ke hostel, kali ini saya dan yang lain memilih untuk ga tidur (karena pas balik ke hostel ternyata uda jam 2 pagi!). Kita putusin untuk istirahat dan bergiliran merapikan bawaan masing-masing. Rencananya kita akan kembali ke KL (hanya untuk transit) dengan pesawat Jet Star yang paling pagi yaitu 7.20 dan harus ada di Changi Airport untuk check in sekitar jam 6 pagi, sebelum akhirnya lanjut lagi dengan Air Asia dari LCCT KL menuju Soekarno-Hatta.

(Selasa) Hari terakhir! *sedih*

Selasa adalah hari yang paling melelahkan, karena dalam waktu kurang dari 8 jam kita harus mengalami 2 kali penerbangan dan transit ke 3 bandara sebelum akhirnya mendarat kembali di Bandara Soetta jam 2 siang. Perjalanan pulang juga berasa agak lama (padahal sepanjang penerbangan tidur pules :D) dan penuh usaha karena setelah sampai di bandara kita harus mengambil bagasi terlebih dulu dengan kaki yang rasanya uda minta dibawa ke tukang pijet refleksi.

Dan akhirnya selesai juga kronologis Gerakan 10 Ribu Langkah KL-Singapore. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa hilir-mudik lagi ke tempat wisata lainnya, baik domestic maupun luar negeri, amien! :D

A few notes:

  • Next, kalo seandainya terwujud wisata ke India, saya harus bawa Ninda. Kenapa? Sepanjang perjalanan, doi udah kayak magnet buat kaum India di KL dan Sg, bahkan sempet dipanggil “Hey canteekk, email dong canteeekk!” sama orang India setempat :p  Kan lumayan banget bisa dikasi diskon kalo belanja bareng Ninda! *temen macem apa ini* :D
  • Saya lupa nama Hostel tempat kita nginep di Sg! meskipun begitu sebenernya hostel itu ga begitu recommended karena kamarnya yang kurang nyaman, cuma 2×2,5 m untuk berempat! kebayang dong ya gimana kita berempat susah gerak di dalamnya. Nilai baiknya hanya ada di fasilitas toiletnya yang bersih (lebih bersih dari hostel yang di KL). Berikut rekomendasi hostel backpacker lain yang awalnya kita incer tapi gagal karena fully booked :( : The Hive
  • Transportasi yang sangat nyaman dan tertata dengan tepat (bersih pula dari vandalisme!) adalah yang paling gw kagumin dari keseluruhan. Apalagi di Singapore yang hampir setiap stasiun MRT-nya terhubung ke Mall sehingga memudahkan turis dalam mencarinya. Macet adalah hal yang ga pernah terlihat sepanjang kita liburan disana.
  • Liburan ke negeri orang adalah saat yang pas buat praktek bahasa asing. Berinteraksi dengan penjual souvenir ataupun pelayan restoran bisa menjadi sarana yang tepat buat latihan, hehee.. walaupun sebenarnya kita ga terlalu khawatir tentang bahasa karena di KL dan Sing bahasanya masih campur antara Melayu, Inggris, dan Mandarin.
  • masih kebayang sama mie-nyaaa.. T_T

    Ada satu warung makanan di dekat hostel tempat kita nginep yang jual mie ikan (seafood lebih tepatnya) yang enaknya mantap kata Anda. Semua udah nyicipin mie itu kecuali saya. Sampai hari ini pun masih kebayang-bayang. Berhubung kita hilir-mudik disana pas banget  di bulan puasa, jadinya cuma bisa wisata daerah aja, minus wisata kuliner :(

  • Udah dua tahun berturut-turut setiap tanggal 17 Agustus saya ga merayakan di rumah. Tahun ini di Singapore dan KL, sedangkan tahun lalu saya ngerayain hari Kemerdekaan di Pulau Karimun Jawa (sampai sekarang belum juga share di blog tentang perjalanan wisatanya, maap ya!)
  • Saat transit di Airport LCCT KL, saya ketemu temen main yang abis jengukin pacarnya yang kuliah di Kuala Lumpur. Dan gara-gara ulah tengilnya minta photo bareng (pake handycam!) di tengah-tengah otw naik pesawat, kita dikasih sirene plus di priwitin sama petugas Airport. Untung aja dapet photonya :p
  • Beberapa photo di postingan ini juga masih courtesy of Andarina Sembiring. Some of them are being edited by me. Oia, postingan Anda tentang perjalanan di Singapore juga bisa dilihat di sini :)
  • Selain bawa pulang oleh-oleh betis bekonde dan kaki yang bengkak (serius, di samping mata kaki saya sampe ada benjolnya dan mesti dipijet refleksi baru mendingan :( ), saya juga beli beberapa benda buat kenang-kenangan (termasuk sepatu boots yang bikin budget makan saya berkurang *sigh*), here they are :

And it’s a wrap. Thanks  for reading, kinda long isn’t it? Hahaa..

Wish u guys have a great vacation too :) :) :) ,

Cheers, -Dhika-

Gerakan 10 Ribu Langkah KuaLa Lumpur-Singapore

Part 1 – Kuala Lumpur


Suasananya hiruk pikuk. Orang-orang lalu lalang sibuk sendiri dengan keperluannya, atm antri, dan ga jarang juga saya liat penjaga bergantian ditanya oleh para calon petualang yang masih awam dengan tata cara check in di bandara. Bandara? Yak betul, akhirnya saya dapet kesempatan untuk libur! A weekend getaway actually, hehee.. Berhubung selasa libur, jadilah saya ambil cuti hari kejepit nasional (baca: senin nanggung). And voila! Here I am, siap hilir mudik di negeri orang dgn minim pengalaman (tapi pede gilak!). Untungnya saya ga sendiri, ada 3 orang petualang muda lainnya yg siap menemani :D Anda, Ninda, dan satu-satunya laki-laki diantara kita (yang harus siap juga menerima segala tingkah polah aneh kita, team cewek rempong), Johan.

Semua berawal dari tiket promo Air Asia ke KL. Rencana awal adalah pergi ke Pulau Tioman, karena saya dan yang lain doyan banget ngeliat pantai, liat basah-basah dikit langsung pengen nyebur aja :P  Tapi ternyata rencana awal gagal karena budget yang minimalis (gagal nabung, hahaa..) dan entah karena terlalu jenius, kita baru sadar seminggu setelah beli tiket kalo hari yang dipilih itu pas bulan puasa, alhasil dari pada batal tiap hari gara-gara nyemplung ke air mulu, pindah haluanlah rutenya jadi trip ke KL dan Singapore. But it’s fine, selama judulnya liburan, hehee..

Check in di Bandara Soetta!

Back to the airport! Udah lama banget ga naik pesawat bikin saya agak-agak gugup gimana gitu karena uda lama ga keluar dari pulau Jawa. Dan rasa gugup itu berubah jadi mules pas saya tahu kita salah terminal! dan mesti lari-lari ngejar shuttle bus padahal uda mesti check in sejam sebelum keberangkatan (baca: panik!). Untungnya walaupun pas nyampe terminal 2D harus ngantri, kita masih belum telat untuk check in, dan ini pertama kalinya paspor saya di cap, yeaay! *norak yee* karena terakhir kali ke luar negeri saya masih nebeng paspornya orangtua :P

Pesawat take off jam 19.30 wib, setengah jam telat dari jadwal keberangkatan. Perut saya pun mulai konser karena kita semua belum ada yang makan malam, dan saya pribadi ga bisa tidur di pesawat kalo perut masih kosong *alesan* :D  Akhirnya mau ga mau kita order makanan di pesawat yang harganya jauh lebih mahal dengan porsi minimalis. Kenapa minimalis? Karena si Anda sampe ngabisin 3 porsi makanan malam itu padahal harga per porsinya sekitar Rp 27 ribu (belum sama minumnya). Belum mendarat di negeri orang, budget uda bengkak duluan buat makan malem, ahahaa..

Kita sampai di bandara LCCT KL jam 23.00 waktu Malaysia (yang berarti jam 22.00 wib karena antara Indonesia dengan Malaysia cuma beda 1 jam). Urusan di imigrasi menyita waktu hampir setengah jam dan selain itu kita juga harus membeli tiket shuttle bus + tiket KLIA transit (seharga 12,5 RM) menuju ke KL stessen (sebutan utk stasiun Kereta Api di Malaysia). Sayangnya ketika sampai di stessen KL, KL express terakhir yang harusnya kita naiki menuju ke arah hostel tempat kita menginap di KL sudah berangkat dan kita terpaksa naik taksi yang harganya jauh lebih mahal, hampir Rp 60 ribu (20 RM) dengan jarak tempuh yang relatif dekat (apa karena ga macet juga ya makanya berasa dekat?) :P

Tiba di Bandara LCCT Kuala Lumpur

Penginapan tempat kita menginap namanya The Travel Hub Hostel, di daerah Chinatown dekat dengan Petailing street. Kita dapat kamar jenis dorm tapi yang private, alias cuma utk 4 orang. Harga kamarnya relatif tergantung pilihan jenis kamarnya, tapi yang kita booked harganya Rp 300 ribu (ini dibagi berempat lho :D ). Penghuni hostel yang lainnya ramah-ramah dan dominan bule. Empunya hostel pun ga kalah baiknya, cuma toiletnya aja yang mesti agak ditingkatkan kebersihannya *tetep ya saya protes*. Oia, saya sama Ninda akhirnya beli McD untuk bekal sahur, karena takut gada resto yang buka lagi dan memang badan sudah harus diistirahatkan malam itu, capek cyinn!:D

Hari kedua (sabtu), bangun dengan semangat ’45! Jadwal kita padat merayap karena Sabtu ini kita mesti ngiterin objek-objek wisata utama di Malaysia. Pertama kita jalan ke Petailing street yang memang ga begitu jauh dari hostel. Di sini harga-harga cukup bersahabat asal pinter nawar.

Perhiasan bermerek di Petailing Street (tapi gatau deh kw berapa :p)

Suasananya kalo di Jakarta mirip dengan pasar baru atau daerah sekitaran mangga dua. Saya menahan diri untuk ga belanja, karena ini masih pagi dan perjalanan masih panjang, takut kalap dan berujung bokek nantinya. Setelah melewati Petailing street kita berjalan-jalan keliling daerah di sekitar (yang masih bisa jalan kaki tentunya), sempat melihat Merdeka Square, Masjid Jamek Raja Tun Uda, dan ga lupa photo-photo di sepanjang jalan. Pemandangannya agak unik karena bersatunya gedung-gedung tua dengan gedung bertingkat yang modern. Apalagi sebutan rambu dan nama jalan yang untuk orang Indonesia bisa bikin cengar-cengir sendiri #nooffense :)

coba perhatikan tulisan di rambunyaaa…

Perjalanan berlanjut ke Central Market KL. Di sini akhirnya saya merogoh kocek juga untuk membeli pernak-pernik kalung dan gelang sekaligus oleh-oleh (iya, walau budget minim, tetep inget yang di Jakarta kok :P). Di central market ini juga jangan lupa nawar lho, walaupun tempatnya ber-AC tapi penjaga tokonya cukup ramah dan banyak juga turis yang mampir kesini. Sebelum lanjut ke Petronas, kita juga istirahat sebentar di foodcourt-nya  karena Anda dan Johan yang ga puasa butuh asupan buat ngelanjutin perjalanan.

Selalu ada momen pertama, dan ini pertama kalinya saya naik MRT *applause*. Tiket MRT harganya sekitar 1-2 RM untuk sekali perjalanan. Dan tujuan kita adalah KLCC, menuju si Menara Kembar Petronas yang jadi objek photo wajib kalo dateng ke KL. Usaha untuk photo disana agak rempong karena kita ga punya kamera LSR (kita berwisata cuma bermodal kamera hp, agak sedih tapi tetep aja yee eksis photo dimana-mana).

karena gada kamera LSR, ini adalah photo yang paling susah buat diambil! usahanya totalitas!!

Oia, kita sempet mampir juga ke outlet VNC di KLCC yang crowd nya uda bisa ditebak: “rame kayak pasar”. Entah kenapa, saya ngerasa kalo isi toko VNC penuh orang Indonesia karena beberapa kali denger mereka ngobrol dengan logat yang familiar di telinga.

crowd-nya ga nahan (-_-‘!)

Setelah berkunjung ke Menara Petronas, sempet bingung mau ke mana awalnya, tapi akhirnya diputuskan kalo kita bakal lanjut ke KL tower, dan tentu saja dengan berjalan kaki. Selain naik MRT, kaki adalah medium transportasi utama kemana-mana, ga heran untuk perjalanan wisata kali ini kita namakan “Gerakan 10 ribu langkah KL – Singapore”.

walk, walk, and walk!! :D

Sebelum sampai ke KL Tower, kita sempet mampir sebentar untuk selonjorin kaki (dan nyari wi-fi gratis! #gamodal) ke salah satu cafe dekat Sheraton hotel Malaysia, dan disana saya dapet berita yang bikin kayak disamber petir! (#lebay) yaitu waktu buka puasa di Malaysia adalah jam 19.40! Padahal hari itu kita uda mulai puasa sejak jam 3 waktu Indonesia (nasib ya nasib).

Belum nyampe area KL Tower uda photo duluan :D

Sampai di gerbang bawah KL Tower kita harus naik shuttle car ke area KL Tower-nya (disini saya lupa kita harus bayar ato engga, tapi kalopun bayar harganya ga akan lebih dari 5 RM per orangnya). Meskipun begitu kita ga naik ke towernya, padahal kata Johan di tower paling atas kita bisa melihat seluruh KL pake teropong yang mirip kayak di film Home Alone 2. Endingnya kita buka puasa di area foodcourt KL tower dan dikasi tambahan makanan gratis oleh penjaga booth makanan tempat kita beli makan minum utk berbuka puasa. Oia, di area KL Tower juga banyak booth untuk beli souvenir yang terkait dengan objek wisata Malaysia, dan untungnya kita menemukan satu toko yang harga barangnya bersahabat. Harga souvenirnya mulai dari 3 RM dan barang-barangnya juga cukup bervariasi.

KuaLa Lumpur Tower adalah objek wisata terakhir yang dikunjungi, saya dan yang lainnya harus kembali ke hostel mengambil barang kemudian melanjutkan perjalanan ke Berjaya Times Square untuk naik bus ke Singapore. Kita naik bus double deck (yeaayy!!), dan ini bikin saya tambah semangat, jadi walapun cuma istirahat sebentar di hostel dan harus disambut gerimis saat berjalan ke arah stessen Monorail (horraayy naik Monorail utk yg pertama kalinya juga! :P) kita berempat tetep hajar bleh aja, hahaa..

Photo taken by teman perjalanan dadakan kita, sang pria India :)

Oia! Selama perjalanan ke Singapore, kita dapet satu tambahan teman perjalanan, seorang pria India yang mau ke Singapore untuk urusan bisnis. Sampe saat ini namanya masih misteri karena dengan oon-nya gada dari kita berempat yang inget namanya siapa pas pertama kali kenalan (parah -_-‘ ).

Sampe di berjaya times square sempet beli pizza dulu di Papa John’s Pizza (ini juga masih misteri, apa si Papa John’s Malaysia sama Papa Ron’s Indonesia punya hubungan sodara apa engga :p ). Tapi pelayan-pelayan restonya baik banget, kita dikasi minuman gratis dan gw dianter ke toilet mall (lewat jalan belakang) padahal uda ga boleh masuk mall lagi karena uda hampir jam 11 dan semua mall memang udah seharusnya tutup jam segitu. Sehari di Malaysia cukup untuk menjelajahi Kuala Lumpur, next kalo main ke Malaysia pengennya sih bener-bener ke Pulau Tioman, mampir di kota bersejarah Melaka, dan main air di pantai Langkawi. Untuk sementara waktu, saya nikmatin aja perjalanan dari KL ke Singapore dengan bus double deck yang super comfy. Jadwal keberangkatan bus-nya itu sebenernya 22.45 (waktu Malaysia) tapi ternyata baru benar-benar berangkat jam 23.00 Jadi kita sempet deh buat norak photo-photo dulu di dalem bus-nya! *senyum sumringah*

The double deck bus, super comfy!

Seat-nya lebih empuk dengan penahan kaki (jadinya bisa selonjoran deh :P) dan ada mesin pemijat attached di dalam kursinya, tinggal klik tombol dan selamat tidur sampe di tujuan.  Btw, armada bus double deck yang kita naikin ini namanya Starmart. Informasi seputar harga dan waktu keberangkatan bisa dilihat di sini. Sebenernya masih banyak armada bus lainnya, tapi kebetulan yang masih terjangkau harganya dengan kualitas pelayanan OK ya Starmart ini, hehee..

(to be continued to part 2 – Singapore)

note:

Sebagian besar photo di postingan ini adalah milik teman saya, Andarina Sembiring. Cerita perjalanan wisata KL-Singapore kami miliknya bisa dilihat di sini, enjoy!

ps:  i had so much fun! <3<3