Musim Semi di Eropa

Setiap melihat foto-foto perjalanan hasil Eurotrip Mei lalu, saya selalu terpikir satu hal, jika kita punya keinginan kuat, selalu camkan di kepala dan yakinkan di hati bahwa itu akan terwujud.

Saya hampir tidak percaya tahun ini bisa menjejakkan kaki di benua Eropa. Selain dengan biaya sendiri hasil jerih payah bekerja, juga dengan penuh perjuangan mendapatkan visa dan jatah cuti yang tersisa. Tahun lalu saya berpikir, “Ah, mumpung Petty lagi di Manchester kayaknya seru kalau bisa ke UK sebelum dia lulus” Dan itu saya tekankan di benak saya berulangkali. Ohya, Petty ini sahabat saya sejak kuliah. Tahun 2013, dia memutuskan untuk cuti bekerja dan melanjutkan pendidikan S2 di Manchester. Awal Januari saya mendapat lampu hijau dari Petty untuk berkunjung ke Manchester, namun rencana yang semula hanya berkunjung ke UK akhirnya berubah ketika Petty bilang bahwa “Gimana kalau Eurotrip sekalian? Aku juga sekalian ada temen yang mau ke Europe bulan Mei..” Dan saya cuma butuh 5 detik untuk bilang iya. Anaknya mudah banget terhasut kalau soal jalan-jalan, hahaa..

Tim pelancong yang tadinya digaungi oleh saya, Petty, dan Jono (sahabat Petty), akhirnya lengkap dengan Chania, sahabat baik saya di kantor. Kebetulan Chania memang sedang mencari partner ke Europe, dan ketika saya ajak, dia pun langsung menyambut dengan semangat. Di Eropa kami mengunjungi 6 kota : Roma (Italia), Paris (Perancis), London, Manchester, dan Liverpool (United Kingdom). Sedikit sekali ya untuk ukuran 16 hari disana? Tapi memang sudah direncanakan dari awal. Berbeda dengan tour dan travel yang setiap harinya dipadatkan dengan berbagai agenda, kami memang tidak ingin menghabiskan waktu terburu-buru. Tipikal yang senang menghabiskan waktu untuk sekedar ngopi-ngopi santai di cafe sambil ngobrol dan menjelajahi daerah yang kami datangi sampai puas.

TICKET, CUTI, DAN VISA

Saya PP menggunakan Qatar Airways, dan karena rutenya multicity (mendarat di Roma, Italy dan pulang dari Manchester, UK) jadi ongkos pesawatnya lumayan mahal Rp 13,9 juta (walaupun sebenarnya beberapa teman bilang kalau itu harga yang cukup ekonomis dengan rute multicity). Sebelum membeli ticket saya pastikan dulu ke atasan bahwa saya diizinkan mengambil cuti yang lama (2 minggu), karena sekali membeli tidak ada jalan untuk kembali. Saya pantang menyerah, harus berangkat pokoknya ;))

Momen perjuangan justru datang ketika harus mengurus visa, karena mengharuskan saya bolak-balik Balikpapan-Jakarta untuk datang ke kantor perwakilan pengurusan visa Schengen dan UK. Mengurus visa Schengen dan UK tidak dapat diwakili karena ada tahapan dimana kita diambil data biometrik, jadi sebaiknya diurus sendiri karena menggunakan travel/perantara justru menambah pengeluaran, sayang kan padahal budget-nya bisa digunakan untuk yang lain. Daftar persyaratan pun lengkap tersedia di situs lembaga pengurusan visa VFS Global jadi memudahkan untuk orang awam yang baru pertama kali mengurus visa seperti saya.

Visa yang bikin saya degdegan adalah visa UK, karena setelah diambil semua dokumen dan tes biometrik saya harus menunggu semua dokumen diverifikasi oleh lembaga pengurusan visa UK di Thailand. Keseluruhan proses memakan waktu paling cepat 3 minggu. Alhamdulillah visa saya jadi tepat 2 minggu sebelum keberangkatan. Untuk visa Schengen bahkan sudah saya terima sebelum memasukkan aplikasi visa UK. Ohya, saya apply visa Schengen melalui negara Italia dan pengurusannya hanya 1 minggu. Sedikit tips dari petugas perwakilan VFS Global Indonesia, sebaiknya masukkan aplikasi ke negara yang paling lama kita tinggali disana, karena misalkan saya pertama kali mendarat di Roma, tapi lebih lama di Paris, akan lebih besar kesempatan persetujuan visa apabila apply visa melalui kedutaan Perancis. Tidak selalu harus membuat visa di negara yang pertama kali kita datangi.

ANGIN MUSIM SEMI

Saat saya disana bersamaan dengan penghujung musim semi di kebanyakan negara Eropa. Bulan Mei, dimana banyak bunga bermekaran dan suhu sudah mulai bersahabat (katanya). Memang tidak terlalu dingin, dan ada hari-hari dimana matahari sinarnya sangat terik, tapi saya tidak pernah keluar hanya dengan berbalut kaos atau 1 lapis sweater, karena anginnya masih berhembus kencang. Bahkan ada saat-saat dimana rasanya seakan-akan menusuk sampai ke tulang. Jadi pastikan selalu membawa coat atau jacket yang tahan angin/windbreaker, terutama yang berbahan luar parasut karena seringkali gerimis dan sesekali hujan lebat. Saya juga membawa payung kecil yang bisa dimasukkan kedalam tas untuk lebih berjaga-jaga.

JAJANAN FAVORIT

Tentu saja untuk saya pemenangnya GELATO! Dalam 1 hari saya bisa mampir 3x ke tempat penjaja Gelato. Teksturnya lembut dengan variasi pilihan rasa, ukurannya besar, tidak membuat batuk, dan harganya lebih bersahabat dari Baskin Robbins atau Haagen Dazs. Di Indonesia juga ada Gelato, tapi saya merasakan ada sedikit perbedaan di tekstur dan banyak perbedaan di harga, hahaa.. 

Vatican Museum

Beautiful stairs at Vatican Museum

with Petty <3

with Petty <3

all team at Versailles Palace

all team at Versailles Palace

Pantheon, Rome Italy

Pantheon, Rome Italy

Untuk postingan tentang perjalanan di masing-masing negara menyusul di lain kesempatan, Ciao Bella! :)

BANGKOK SONGKRAN FESTIVAL: “Sawasdee Pee Mai!”

Rencana bertolak ke Bangkok untuk Songkran Festival sebenarnya sudah ada dari setahun yang lalu. Agak menggebu karena merasa penat menunggu cuti yang gak kunjung datang sementara ajakan pergi dari teman-teman untuk liburan ke berbagai tempat datang bertubi-tubi. Domisili di Balikpapan semakin menyulitkan ketika ingin liburan dengan low cost, karena itu begitu ada promo ticket PP JKT-BPP saya gak berpikir dua kali untuk beli. Walaupun belum tentu jadi ke Songkran, yah paling tidak saya ada tujuan lain: pulang kampung ke rumah :’)

Tapi takdir berkata lain, sebulan sebelum Songkran -yang setiap tahunnya jatuh di tanggal 13-15 April- akhirnya saya membeli tiket ke Bangkok, bersama Farhan, Willy, dan disusul oleh Anida.

11

with Farhan at Siam Square (photo by Anida)

Berbeda dengan Farhan yang sudah beberapa kali melakukan solo trip, saya amatir ketika berkaitan dengan traveling dan berkenalan dengan warganegara asing, sehingga saat tahu bahwa Willy dan Anida -yang sejatinya memang traveler yang sudah melanglang buana ke berbagai Negara- akan menemani saya dan Farhan kali ini, rasanya sangat menyenangkan. The more the merrier!

6

The most crazy war-zone, Silom road! (photo by Willy)

Setibanya di Bangkok, kami tidak membuang waktu percuma. Tidak sampai sejam beristirahat di hostel, kami langsung keluar untuk mencari keriaan Songkran. Willy paling sigap, dari awal sudah membeli water-gun di hostel. Saya menyusul setelahnya karena tidak tahan ditembaki air oleh penduduk lokal. Naluri kompetitifnya tersulut :’))))

Ada beberapa pusat keriaan Songkran Festival yang sempat kami kunjungi, Silom Road, Khao San Road, Siam Square, dan Royal City Avenue. Dari semuanya, Silom Road adalah war-zone yang paling meriah, berpusat di Silom Complex dibawah BTS Saladaeng, segala macam atraksi ada di sepanjang Silom Road. Mulai dari pemadam kebakaran yang siaga menyemprot air ke segala penjuru, penjual berbagai jenis pistol air, aneka jajanan, wet ladies dancing show, sampai dengan bubble play area. Pengunjungnya pun dari berbagai usia, walaupun didominasi oleh remaja dan dewasa muda.

Di semua pusat keriaan Songkran, saya sama sekali gak keberatan disemprot air berkali-kali, bahkan air dingin sekalipun. Niatan kami memang bersenang-senang selama pesta air 3 hari –dan ternyata 3 malam juga, gilak!- tapi selain air juga ada cairan kapur putih yang dengan bebasnya bisa dioleskan oleh siapa saja, ke bagian mana saja, dan tentu saja sasaran utamanya di wajah! Banyak sekali pemuda-pemudi hilir mudik dengan mangkuk kecil berisi cairan putih tersebut sehingga tidak mungkin untuk melarikan diri. Saya berulang kali kena telak, sampai gak terhitung berapa kali mata kelilipan. Tapi karena esensi pengolesan cairan putih tersebut adalah sebagai berkat Tahun Baru, saya gak bisa marah. Apalagi semakin dihindari semakin bikin orang geregetan. Dari yang awalnya geram, pasrah, sampai ujung-ujungnya cengengesan saja. Meleng dikit langsung dicolek orang, Jon!

9

ki-ka: Alderina-Mathijs-Anida-(me)-Farhan-Carol (photo by Willy)

Beruntung di keriaan Songkran Festival ini kami berempat dapat tambahan extra team 3 orang teman yang kami jumpai di hostel, Carol, Mathijs, dan Chris. Dan agenda bertemu dengan teman kami Alderina yang saat ini berdomisili di Bangkok juga terpenuhi. Mission accomplished, everybody happy :’)

Songkran Festival di Thailand merupakan semacam perayaan Hari Tahun Baru yang jatuh pada pertengahan April, waktu terpanas di sepanjang tahun di Thailand karena bertepatan dengan akhir musim kemarau. Dan karena pemerintah Thailand menjadikan Songkran Festival sebagai hari libur nasional, ajang pesta air gila-gilaan ini dirayakan massal di berbagai daerah di Thailand. Alderina bilang perayaan Songkran sebenarnya paling terkenal di Thailand Utara, kota Chiang Mai. Dengan durasi waktu perayaan lebih lama dan ada parade gambar budha dimana penduduk setempat bisa melempar air ke gambar tersebut sebagai berkat. Menariknya, berbeda dengan Chiang Mai dimana penduduk lokal merayakannya dengan meriah, perayaan Songkran Festival di Bangkok justru didominasi oleh para remaja Thailand dan wisatawan asing dari berbagai Negara, karena kebanyakan penduduk lokalnya, terutama generasi yang lebih tua, lebih memilih untuk pulang merayakan Songkran di kampung halaman masing-masing menghindari kerumunan massal dan kehebohan pesta air.

3

firefighter at Silom road (photo by Anida)

Karena dua hari sudah kami habiskan untuk berbasah-basahan sepanjang hari, di hari ketiga kami putuskan untuk mengunjungi Komplek Biara Budha Wat Arun dan Wat Pho. Di kedua tempat tersebut Songkran diperingati secara tradisional dengan berdoa, memberikan makanan kepada para biksu, dan melakukan ritual pemandian patung Budha sebagai simbol pembersihan dan pembaharuan. Hal ini diyakini akan membawa keberuntungan dan kemakmuran untuk Tahun Baru.

7

‘Bathing Budha’ Ritual at Wat Pho

1

View from Wat Arun Temple

Yang menarik perhatian saya saat berkunjung ke Wat Pho adalah di salah satu area di dalam komplek Biara tersebut terdapat satu lokasi dimana banyak terdapat gundukan pasir menyerupai stupa kecil yang dihiasi bendera warna-warni dan bunga. Gundukan pasir menyerupai mini stupa tersebut merupakan simbol pembersihan menyeluruh, pengganti untuk segala kotoran yang terbawa pada kaki seseorang, dalam hal ini dimaksudkan segala perbuatan buruk yang telah dilakukan sepanjang tahun sebelumnya. Setelah diletakkan di area yang tersedia, setiap orang berdoa di depan ‘mini stupa’ mereka masing-masing dan membuat resolusi tahun baru untuk melakukan hal-hal yang baik ke depannya.

8

Warna-warni mini stupa dari pasir, saat membuat resolusi tahun baru :)

Baik ajang pesta air maupun perayaan secara tradisional, Songkran Festival menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik domestik maupun asing untuk berkunjung ke Thailand.

Ada beberapa hal yang membantu saya selama Songkran trip :

  • Tetap berada dekat dengan rombongan teman-teman selama berada di ajang pesta air, situasi kerumunan massa bisa menjadi lepas kendali dan hal yang paling gak kita inginkan adalah terpisah dari rombongan dan berakhir saling mencari sepanjang hari.
  • Menginap di hostel yang lokasinya tidak jauh dari pusat keriaan Songkran. Kebetulan hostel tempat kami menginap, Saphaipae, berada di Surasakh road, sekitar 100 meter dari BTS Surasakh dan 1 km dari Silom Road, sehingga akses untuk pergi ke berbagai tempat sangat memadai. Pelayanan, kebersihan kamar, dan makanan di hostel pun sangat baik. Favorit saya? Thai Ice Tea-nya, tidak terlalu manis, pas di lidah :’)
  • Di situasi war-zone, saya yang gampang tersulut akhirnya membeli pistol air 2x :’)) yang pertama lebih sering butuh isi ulang air dan lumayan berat untuk tubuh saya yang mungil. Jadi saya putuskan untuk membeli pistol air yang lebih fleksibel dan membantu. Kalau mau bersenang-senang, jangan tanggung-tanggung :’D
  • Sebelum berangkat, teman saya bilang nanti jangan naik Tuk Tuk, harganya mahal karena drivernya tahu kebanyakan yang tertarik untuk naik adalah wisatawan. Tapi khusus saat Songkran Festival, sangat disarankan untuk naik Tuk Tuk jika ingin mencoba pengalaman war-zone yang seru dan berbeda. Saya serasa seperti gangster yang ada di televisi, di setiap lampu merah selalu siaga dengan pistol air masing-masing jika ada Tuk Tuk atau mobil lain yang berusaha menembak Tuk Tuk kami dengan pistol airnya. Tapi tentu saja kami selalu tak berdaya ketika melewati setiap perempatan atau pinggir jalan dimana ada kerumunan warga yang siap menerjang Tuk Tuk kami dengan ember besar berisi air penuh. Setiap turun dari Tuk Tuk basah kuyupnya selalu keterlaluan, namun seperti anak kecil kami selalu tertawa ceria karena puas sudah berhasil melewati satu pertempuran :’)))
  • Bawa obat-obatan pribadi dan makan yang cukup, karena war-zone Songkran sangat menghabiskan tenaga. Selama disana bisa dikatakan bahwa energi penduduk lokal seperti gak ada habisnya, mereka totalitas dalam merayakan Songkran. Pesta air tidak hanya berlangsung dari siang ke sore saja. Di beberapa tempat, salah satunya Royal City Avenue, perayaan Songkran dilakukan sampai dini hari menjelang shubuh. So if you wanna join them, you should be in a good condition. Jangan sampai sepulangnya ke rumah malah jadi flu berat dan tepar gak karuan.
  • Last but not least, AWESOME FRIENDS!

Untuk gallery foto lebih lengkap dan cerita Songkran lainnya bisa berkunjung ke Farhan atau Anida :’)

Happy Songkran Day, people! Sawasdee Pee Mai! :’)

2

Goodluck, mate!

FOTO RAMAI

Dari ki-ka: pipin-angi-(me)-mba ita

Seorang sahabat baik pernah bilang “Andai memori otak bisa di wipe kayak iPhone, pengen mulai hidup baru!”

Reaksi saya hanya senyum geli sebentar lalu menimpali dengan “Kenapa harus di wipe? gak seru dong! Semua kenangan, baik senang atau sedih, itu yang ngebentuk diri kamu yang sekarang, tinggal bagaimana kedepannya supaya lebih baik berkaca dari pengalaman yang udah kamu lalui” Dan dia pun membalas cepat dengan “Iya, kamu benar :)”

Gak ada maksud untuk menjadi yang paling bijak, cuma ya begitu adanya. Dan kalau boleh jujur, wajah saya ini memang kurang sepadan kalau berbicara dewasa, cenderung minta ditoyor, hahaa..

Anyways, terlepas dari apa pun pengalaman, senang, sedih, sampai jengkel sekalipun, saya ucapkan selamat jalan dan semoga sukses di tempat baru untuk teman-teman saya yang mulai bulan April ini berpindah kerja ke lokasi baru. Take care and goodluck! :)

Nulis Dong, Jon!

Kalau ditanya satu hal yang ingin saya lakukan dan sudah berjanji berkali-kali (sama diri sendiri) adalah mulai rajin menulis. Bukan untuk pamer tentang segala hal yang saya alami ataupun sekedar gaya-gayaan di era digital sekarang, tapi itikad untuk bisa mengeluarkan semua yang mungkin gak bisa diucapkan lewat mulut saya yang bawel ini.

Hidup jauh dari keluarga sudah pernah saya alami dulu waktu kuliah, jadi waktu Juli tahun lalu mulai ditugaskan kantor merantau nun jauh di Balikpapan, saya lebih terbantu dalam cara beradaptasi. Tapi yang paling sulit itu mengusir sepi dan mengayomi kerinduan yang gencar sekali datang di akhir pekan. Mendapatkan teman sangat mudah dengan bersikap baik dan rajin tersenyum, tapi sahabat baik? sulit sekali. Since I’m the newcomer, I’m the one who have to adjust with the rest. And I don’t mind, it’s called compromise. But lately, i really miss my friends back in Jakarta and Bandung, a lot.

Sang pacar menyarankan, “kenapa gak nulis aja?” karena saya gak bisa selalu online dan ngobrol sama mereka semua, mungkin lewat menulis bisa sedikit membantu. Soooooo… here i am, writing this. Tapi kali ini saya gak mau berjanji lagi, karena akan ada saatnya ketika hati ingin berbagi maka jemari ini dengan sendirinya akan lincah menari.

Our First Trip!

Pacar saya pernah bilang, “ingatan kamu menakutkan!” Gara-gara saya bisa ingat hal-hal kecil yang biasanya terlupakan. Tapi kalau traveling bareng sama dia rasanya itu hal yang memang sulit dilupakan, dan saya rasa itu berlaku vice versa untuk kami berdua *pede* :D

Adalah trip pertama kami berdua, saya dan @farhansv, keluar negeri bareng. Tujuannya mampir ke negeri sebelah, Singapura. Seumur-umur pacaran hampir 4 tahun, baru sekali itulah kita trip bareng keluar negeri, keluar kepulauan Jawa yang pertama kali juga malahan. Kasian sama kita? No need to, selalu ada yang pertama kali untuk sesuatu :)  Dan kalau baru jadian beberapa bulan trus kita pergi keluar negeri bareng, rasanya abis pulang kita bisa langsung bubaran karena belum kenal sifat masing-masing.

Di setiap perjalanan biasanya saya browsing di tempat destinasi ada objek apa aja yang bisa diliat dan diskusi sama partner perjalanan. Dan biasanya juga saya lebih galak sama teman kalau dia bilang, “kita ngobrolinnya nanti ya” atau “duh, gw bingung nih mutusin kemana aja tujuannya” tapi berhubung sama pacar (yang entah kenapa tingkat toleran saya luar biasa kalau sama dia) jadi saya santai, ibaratnya pake istilah “go with the flow aja”, hahaa.. (but next time kalau kita trip bareng keluar negeri lagi, perangai galak itu rasanya perlu). Akhirnya diskusi itinerary baru dilakukan seminggu sebelum perjalanan, itu pun memangkas waktu luang yang harusnya @farhansv gunakan buat ngerjain sidejob-nya. Hati saya gak tenang waktu hitungan jam sebelum keberangkatan kami, dollar belum ditukar. Sepele memang masalah tukar uang, tapi yah entah kenapa merasa ribet sendiri kalau harus tukar disana, belum lagi kalau ternyata kursnya jauh lebih mahal dan memangkas budget liburan kami. Untungnya masalah itu terselesaikan di awal perjalanan (kok cuma di awal selesainya? We’ll continue ’bout that later :D)

Sampai di Soetta semuanya lancar terkendali, bahkan kita sempat dapat wejangan dan doa dari supir taksi yang mengantar, hahaa.. Tapi kepercayaan diri saya seperti meluntur waktu sampai di Changi, saat harus beli simcard lokal. Mendadak logat Singlish yang diucapkan frontliners-nya bikin saya grogi, sampai akhirnya harus diulang beberapa kali baru saya paham, dan sempat terjadi salah pengertian hingga saya akhirnya beli simcard dengan harga yang lebih mahal. Dari situ saya jadi agak takut membuka obrolan dengan orang asing, bahkan dengan sesama penghuni hostel yang kami tempati. Saya jadi lebih banyak tersenyum dan menyibukkan diri sendiri.

Selama trip berlangsung, kami membagi perjalanan 3 hari itu menjadi 3 tema, hari pertama adalah hari berbudaya (pergi ke museum, jalan-jalan di kota dan taman, serta melihat festival pertunjukan seni di Esplanade). Hari kedua, hari bermain! (seharian dihabiskan di Universal Studios Singapore dan ditutup dengan santai malam hari di Clarke Quay), dan hari ketiga kami sepakati sebagai hari belanja (sudah diniatkan di awal kami akan beli titipan dan oleh-oleh di hari ini). Sebenarnya tema-tema ini keputusan saya sepihak yang disetujui oleh @farhansv (karena sayang sepertinya *lalalalaaa*).

Ceritanya kembar gitu jamnya :p

Boleh dibilang kami traveling di saat yang pas, karena di Singapura sedang diadakan Huayi Festival menyambut datangnya Tahun Baru Cina, dan beberapa atraksi atau pertunjukan seni diadakan di Esplanade, tidak begitu jauh dari hostel kami, sekitar 15-25 menit perjalanan. Di National Museum of Singapore juga sedang diadakan open house sehingga kami bisa gratis masuk ke setiap area. Kami pun terbantu dengan lokasi hostel yang strategis (Hongkong st.) dekat dengan tempat makan yang murah, halte bus, MRT station, mall (Center Point), hang out places/tempat nongkrong (clarke quay), dan semuanya itu bisa ditempuh dengan jalan kaki, awesome! Oia, ditambah juga dengan keramahan dan pelayanan yang baik dari hostel tempat kami menginap, River City Inn. A whole great package.

Kisruh diantara kami justru datang dari hal yang sepele (like I told you before, it’s only the beginning). Saya yang gak ahli dalam hal potret-memotret seringkali bikin dongkol pacar yang justru kebalikannya andal dan tahu momen yang pas menangkap gambar. Tentu saja ini membuat stock photo saya jauh lebih banyak dari dia, hehee.. Saya yang di awal sempat grogi, akhirnya jadi ngintil kemana @farhansv pergi, padahal sebenarnya dia gak mempermasalahkan kalau saya mau pergi mencari hal-hal menarik lain. Panik karena ternyata harus ambil duit tambahan dan tukar uang tapi ATM yang sesuai sulit ditemui, sampai jadwal pesawat yang ternyata beda dari info awal membuat rute mencari barang titipan yang sudah direncanakan dari awal jadi berantakan, merubah mood perjalanan hari terakhir jadi suram. Kisruh pun semakin lengkap dengan cuaca yang kurang mendukung. Yes, selama 3 hari disana, hujan sangat akrab menghiasi perjalanan, bahkan disaat kami wara-wiri di Universal Studios Singapore.

Tapi yang menarik adalah entah kenapa saat sudah di pesawat kembali menuju Jakarta dan mengingat tempat apa saja yang berhasil kami datangi dan pengalaman apa yang kami dapatkan, saya justru merasa senang, sempat senyum-senyum sendiri malahan, hahaa.. Dan setelah suasana kembali tenang, kami bicara dan mengungkapkan ganjalan di hati masing-masing, apa yang kurang dan harus diperbaiki untuk trip selanjutnya (semoga @farhansv masih mau jadi partner trip saya :D). Dia bisa jadi sangat demanding, tapi saya lebih suka dia yang jujur mau ini-itu, mau kesini-kesitu, daripada dia yang cenderung ‘nrimo’ dan bilang terserah mau pergi kemana, karena ujung-ujungnya bakal clueless dan jalan di tempat. Masing-masing pasangan punya cara tersendiri untuk problem solving. Mendewasakan diri ga? Yam..tentu saja :)
Anyways, there are some points taken :

  1. Kalau pacar bilang dia sibuk, sangat disarankan buat itinerary sendiri dulu lengkap dengan perkiraan budgetnya, jadi diskusi bisa lebih praktis by email, walaupun saya pribadi lebih suka ngobrol biar lebih jelas. Oia! Jangan lupa sharing semua file yang harus di print, jadi ada cadangan, just incase :)
  2. Biasakan lebih dalam menukar dollar/valuta asing lainnya dan jangan mepet juga nukarnya  *selfnote*
  3. Partner perjalanan adalah tempat berbagi, tempat curhat, orang yang kita percayai, jadi harus lebih jujur dan terbuka. Kalau gak suka tentang suatu hal ya bilang, kalau takut atau grogi juga bilang aja. Gak akan dihukum (apalagi sama pacar sendiri), justru bakal dibantu. Di kasus takut naik rollercoaster contohnya, walaupun jantung kayak mau copot, seengganya saya udah pernah nyoba, bisa cerita ke anak cucu, “nenek dulu walaupun penakut tapi berhasil naik rollercoaster yang mengerikan lho, cu, kamu juga harus berani dong!”. Lagian kalau dipikir-pikir, sayang juga sudah jauh-jauh ke USS tapi gak naik salah satu wahana andalannya. Thanks to @farhansv:)

    Human Battle Galactica! Butuh setengah hari membujuk saya naik wahana itu, hehee..

  4. Kalau @farhansv susah bangun pagi, dia merelakan kepalanya digetok atau badannya dicubit, apapun asal bisa dibangunin! *anotherselfnote*
  5. Double check jadwal pesawat pergi-pulang, jadi risiko rally ngejar pesawat bisa dikurangi bahkan ditiadakan. Ini penting banget, karena sudah 2x saya punya pengalaman harus rally ngejar pesawat. Kali ini lebih luar biasa deg-degannya gara-gara ditambah sama momen lari-lari di Changi dengan celana kedodoran karena lupa pake ikat pinggang :D
  6. Ternyata saya gak petabuta! Walaupun mungkin gak andal, tapi bisa baca peta dan inget rute-rute MRT sangat membantu partner kita, apalagi kalau dia tiba-tiba hilang arah karena panik, hihii..
  7. Hari kesukaan saya itu: hari kedua! Mungkin karena baru pertama kali ke USS jadi ada debar penasaran gitu *duileee* dan banyak photo serta video yang bagus di hari itu. Sayangnya, semua photo di iPhone @farhansv hilang karena gak sengaja ke-restore saat ganti setting. Sampai sekarang kami masih berduka kalau inget-inget hal itu, beneran.
  8. Hmm..saya harap sang pacar gak kapok pergi liburan keluar negeri bareng saya lagi, karena saya engga. I would love to go traveling around the world with him. *langsungliatjadwalliburkantor* :D
  9. Bisa dilihat juga tulisan @farhansv tentang trip kami disini dan foto-fotonya disini

i want all those chocolate and candies, dear God please forgive me! hahaa

Last but not least,
For all couples, I hope you guys enjoy your traveling time together, bye! :)

2012!

2012!

New year!
New hope!
New definition of relationship!
New salary! (yeay! :p)
New friends!
New upcoming bestfriends wedding!
New projects!
New holiday plans! *fingercrossed*

Happy New Year, guys! :)

 

Ngobrol Sore

Terus mau gimana lanjutnya, Ndut?

Ya, gimana, gw maunya sih tetep bareng-bareng, atau seenggaknya jalanin yang ada dulu walaupun statusnya bukan pasangan lagi. Gw mau punya momen sama dia cil. Selama gw jadian sama dia, kita berdua long distance, padahal gw bukan setahun dua tahun sayang sama dia. Lo tau sendiri, udah tujuh tahun. Kalau nikah udah punya anak lucu kali gw.

Yeee..ngarep loo, hahahaa..

Masalah beda agama, masalah klise yang akan terus ada sepanjang zaman. Tapi sejatinya gw merasa gw ga pernah sayang sama orang kayak gw sayang sama dia. Gw ga pernah segelisah ini sama orang lain, gw merasa ga kenal sama diri gw sendiri.

Yes, sejauh pertemanan gw sama lo, lo ga pernah seposesif ini sama pasangan, bahkan sejujurnya belum pernah lo posesif, Cuma labil aja sih.

Nah lo sendiri gimana?

Gw? At least kalo masalah agama itu bentuknya prinsipil, nah kalo gw…masalah terusiknya hati seseorang karena dipicu jarak, tanpa campur tangan orang ketiga secara langsung. Sejauh yang gw tau, hati ini masih berdiri di sebelah hatinya dia. Merasa masih berdampingan sejalan, tapi gada yang tau kedepannya gimana. Ada dan gada orang baru pun masih sulit berpaling.

Iya, padahal  gw sendiri pun sadar kalo si abang itu ga ganteng, ahahahaaa..

Hahahaaa..

*Dan dua sahabat itu saling menumpahkan isi hati masing-masing sampai larut, ditemani  alunan musik, irisan-irisan salmon sashimi, dan edamame.*